Rabu, 23 April 2014

Lihatlah Dirimu!


Muhasabah  ~mengevaluasi  diri~

Hari berganti hari,bulan berganti bulan, tahun demi tahun pun berlalu. Semua ini adalah tahapan yang ditempuh seorang hamba menuju negeri akhirat, akhir dari perjalanan. Setiap hari yang dilalui semakin menjauhkannya dari dunia, dan mendekatkan kepada akhirat. Maka sungguh berbahagialah seorang hamba yang senantiasa menggunakan berbagai kesempatan yang dimilikinya untuk hal-hal baik dan bermanfaat. Alangkah beruntungnya orang yang menyibukkan dirinya  dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Kehidupan dunia merupakan penentu masa depan seorang hamba di akhirat kelak. Akankah dia bisa memanfaatkan umurnya dalam hal-hal yang baik, dalam ketaatan kepada  Allah Swt, sehingga kelak dia berada  dinegeri  yang penuh dengan kenikmatan abadi, atau justru sebaliknya, dia menghabiskan umurnya dalam berbagai perkara yang sia-sia dan kemaksiatan kepada Allah Swt, sehingga siksa pun menantinya di negeri akhirat.kita berlindung kepada Allah Swt dari hal tersebut.
Seorang muslim yang baik selalu berupaya mengisi waktu dengan menunaikan kewajiban, menjauhi larangan, dan memperbanyak amal shalih sebagai bekal terbaik untuk menyonsong kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, untuk bisa tetap istiqamah dalam melakukan amal shalih,maka salah satu usaha yang ditempuh adalah senantiasa melakukan muhasabah (instrospeksi diri) terhadap segala aktivitas yang telah dijalani maupun yang akan dilakukan.

Apakah muhasabah itu?

Secara etimologi, muhasabah berasal dari kata kerja hasiba yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaannya, muhasabah di identikkan dengan proses pengamatan terhadap diri sendiri,  instrospeksi diri, mawas diri,  atau mengevaluasi diri.
Muhasabah dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah muhasabah sebelum melakukan pekerjaan. Sedangkan yang kedua adalah muhasabah setelah melaksanakan pekerjaan. Kedua hal ini sangat penting dilakukan oleh seorang muslim. Muhasabah yang pertama akan menjadikan pekerjaan yang dia lakukan bernilai positif baginya baik didunia maupun di akhirat. Sedangkan muhasabah yang kedua akan memudahkan untuk menambal kekurangan dalam pekerjaan yang telah dilaksanakan serta menjadikan pekerjaan yang akan dilakukan lebih sempurna.
Para ulama dari masa ke masa senantiasa memberikan dorongan kepada kaum muslimin supaya melakukan muhasabah.  Diantaranya,  sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Al- Imam Ahmad (rohiimahullah) bahwa Umar  bin Al- Khathtab (rodiallahuanhu)  mengatakan “ Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang! Sesungguhnya instrospeksi diri pada hari ini lebih ringan  dari pada hisab dikemudian hari. Berhiaslah untuk perhelatan akhbar (hari akhir), pada hari yang segalanya akan tampak dan tidak ada lagi yang tersembunyi dari kalian!” demiian pula Al-  Hasan Al-Basri (rohiimahullah)  mengatakan “ seorang Mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia melakukan instrospeksi diri  karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kamat kelak akan lebih ringan  bagi yang telah melakukannya di dunia.”
Kenapa setiap manusia harus melakukan instrospeksi pada dirinya sendiri? Perlu diketahui bahwa jiwa manusia senantiasa mengajak kepada keburukan. Tidak seorangpun yangselamat darinyakecuali  orang-orang  yang diberi taufik ole h Allah Swt. Maka sungguh orang yang meninggalkan muhasabah dan selalu memperturut hawa nafsu. Muhasabah akanmemunculkan rasa takut kepada Allah Swt. Dan rasa takut kepadaAllah Swt ini akan menekan kecenderungan hawa nafsu yang kerap mengajak pada perbuatan negarif (maksiat). Nabi Muhammad Saw.  Senantiasa bersabda kepada pada sahabat dalam pembukaan khutbah beliau : “segala puji bagi Allah . kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita.”  [H.R. Ibnu Majah , dishahihkan oleh syikh Al- Albani rohiimahullah].
Dengan demikian, salah satu metode menekan kekuasaan pada diri seorang hamba adalah dengan selalu melakukan muhasabah. Maka seorang hamba yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, harus melakukan instrospeksi terhadap hawa nafsunya. Kemudian mempersempit ruang geraknya, serta menahan gejolaknya.barang siapa mengabaikan  muhasabah dan senantiasa memperturutkan hawa nafsu, maka sungguh dia berada dalam kerugian yang besar. Hakikat kerugian tersebut baru benar-benar akan tampak nanti pada hari kiamat.

Metode muhasabah

Ibnul Qayyim (rohiimahullah) mengatakan bahwa bermuhasabah bisa dilakukan dengan menimbang antara kenikmatan yang Allah swt keruniakan dan kejahatan yang kita lakukan. Artinya, kita melihat berbagai anugerah yang telah Allah swt berikan kepada kita dan melihat apa yang telah kita perbuat. Dengan begitu, akan nampak kesenjangan yang sangat jauh  antara keduanya. Betapa Allah swt senantiasa mencurahkan berbagai kenikmatan  lahir dan batin kepada kita, sementara kita tidak pandai mensyukurinya. Harus kita akui , bagaimanapun upaya  seorang hamba untuk mensyukuri semua nikmat tersebut, niscaya dia tidak akan mampu melakukannya. Bagaimana tidak, menghitung saja tidak akan bisa karena begitu banyaknya, apalagi untuk mensyukurinya. Allah Swt  berfirman : “Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya  kalian tak dapat membilangnya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang” [ Q.S. An-Nahl : 18]
Sedangkan kita dituntut untuk selalu berusaha untuk mensyukurinya. Allah  berfirman: “ maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian ingkar.” [Q.S. AL-Baqarah: 152].  Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk mensyukuri semua karunia-Nya tanpa terkecuali.
 Dari sini kemudian, kita selalu meniali diri kita. Apakah kita telah bersyukur kepada Allah atau justru mengingkari nikmat-nikmat tersebut dengan bermaksiat kepada Allah. Inilah nilai muhasabah tersebut.
Maka agar umur kita yang sangat terbatas di dunia in bisa semakin produktif menghasilkan berbagai amal shalih, maka konsisten dalam muhasabah adalah solusi terbaik untuk bisa mewujudkannya. Dengan muhasabah mari kita jelang masa depan dengan perubahan-perubahan yang gemilang dalam beribadah kepada Allah swt baik secara kualitas  maupun kuantitas.
Allahu a’lam.
[sumber majalah Tashfiyah, edisi 11 vol.01 1433 H- 2011 M] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar